BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Pendidikan merupakan sebuah proses transpormasi ilmu pengetahuan baik itu
ilmu alamiah, maupun ilmu akal, dari generasi yang lebih tahu kepada generasi
selanjutnya yang belum memiliki pengetahuan sebanyak generasi terdahulunya.
Proses ini berlangsung dari zaman prasejarah sampai abad modern saat ini. Mulai
dari cara yang sederhana sampai kepada cara yang kompleks seperti saat ini,
mulai dari hanya berbagi pengalaman ketika berburu di depan api unggun sampai
kepada melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti sekarang ini. Semua itu
hampir berlangsung di seluruh dunia tidak hanya di Indonesia saja, itu merupakan proses alamiah manusia sebagai
makhluk sosial yang selalu ingin berbagi dalam segala aspek kehidupannya.
Filsafat barat Abad Pertengahan
(479-1492 M) juga dapat dikatakan sebagai “Abad Gelap”, karena pendapat ini
didasarkan pada pendekatan sejarah gereja. Memang saat itu, tindakan gereja
sangat membelenggu kehidupan manusia. Para ahli fikir saat itu tidak lagi
memiliki kebebasan untuk berfikir. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang
bertentangan dengan ajaran gereja orang yang mengemukakannya akan mendapatkan
hukuman berat.
Pihak gereja melarang diadakannya penyelidikan
berdasarkan rasio terhadap agama. Dalam sejarah filsafat ada saat-saat yang
dianggap penting sebagai patokan suatu era (zaman), karena selain memiliki
zaman atau khas, yaitu suatu aliran filsafat bisa meniggalkan pengaruh yang
sangat bersejarah pada peradaban manusia. Pada awal abad ke-6 filsafat berhenti
untuk waktu yang lama. Segala perkembangan ilmu pada waktu itu terhambat. Hal
ini disebabkan karena abad ke-6 dan ke-7 adalah abad-abad yang kacau. Karena
pada waktu itu adanya perpindahan bangsa-bangsa yang masih belum beradab
terhadap kerajaan romawi, sampai kerajaan tersebut runtuh. Bersama kerajaan itu
runtuh, runtuh pula peradaban romawi, baik itu yang bukan umat kristiani maupun
peradaban kristiani yang di bangun pada abad ke-5 terakhir.
1.2
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
ajaran pendidikan pada abad pertengahan?
2. Bagaimana definisi atau karakteristik pemikiran masa
abad pertengahan?
3. Siapa
saja filsafat yang terkenal pada abad pertengahan?
1.3 Tujuan
1. Untuk
mengetahui Bagaimana pendidikan di eropa pada abad pertengahan
2. Untuk mengetahui definisi atau karakteristik
Pemikiran Masa Abad Pertengahan
3. Untuk
mengetahui Siapa saja filsafat yang terkenal pada abad pertengahan
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Ajaran
Pendidikan pada Abad Pertengahan
2.1.1
Pendidikan Abad Pertengahan di Eropa
Pada abad pertengahan, aliran
religi menjadi sangat berpengaruh. Pendidikan bersifat akherat, hal-hal yang
sifatnya duniawi tidak begitu mendapat perhatian. Semua usaha pendidikan
tertuju kepada kehidupan akherat. Yang menjadi lembaga pendidikan adalah: rumah
tangga, gereja, sekolah, negara, dan masyarakat. Semua lembaga tersebut
didominasi oleh religi. Agama merupakan pusat dari seluruh pendidikan dan
pengajaran. Pekerjaan para paderi yang semula mengerjakan tanah, mengeringkan
paya-paya guna memajukan pertanian, beralih ke penyelenggaraan kepentingan-kepentingan
rohaniah, yaitu dengan didirikannya sekolah-sekolah.
Abad pertengahan merupakan jaman
scholastik (pelajaran sekolah). Scholastik dimaksud sebagai usaha ilmiah untuk
membuat supaya pelajaran-pelajaran gereja dapat dipahami dengan memberikan bukti-bukti
yang logis. Kehidupan duniawi dianggap hanya sebagai landasan bagi hidup di
alam baka. Apabila di Yunani dan Romawi ada orang tunduk pada negara, maka kini
tunduk pada gereja. Abad pertengahan di Eropa dibagi menjadi dua bagian yang
berlainan keadaannya. Abad ke-5 dan ke-6 disebut abad gelap. Pada masa itu
terjadi perpindahan bangsa-bangsa, kekacauan, dan bangkitnya kebudayaan.
Meskipun di Eropa pada saat itu mengalami masa yang
lazim disebut dengan “The Dark Ages” atau zaman kegalapan yang mana ilmu
pengetahuan tidak dapat berkembang dengan maksimal ini terjadi karena monopoli
ilmu oleh Gereja. Mengapa demikian, ini terjadi karean semua
manuskrif-manuskrif, catatan-catatan mengenai pengetahuan dikusai oleh Gereja
dan dikembangkan dogma bahwa barang siapa yang berusaha untuk belajar atau
membaca buku pengetahuan di perpustakaan dia akan mati. Sehingga masyarakat pun
enggan untuk mengkaji masalah keilmuan pada saat itu. Memang, ada masyarakat
yang nekat tapi mereka semua diketemukan meninggal baik itu ketika membaca
maupun setelah membaca buku-buku di dalam perpustakaan.
2.1.2 Pendidikan di Indonesia pada Abad Pertengahan
Sebelum bermunculanya kerajaan-kerajaan Hindu, Budha,
dan Islam di Indonesia diperkirakan telah tumbuh dan berkembang pendidikan dalam
fase-fase yang cuckup sederhana dimana pada masa ini bangsa indonesia belumlah
mengenal tulisan sehingga pendidikan mungkin hanya melalui lisan saja. Namun, fakta lain muncul karena banyak ditemukan gambar-gambar
yang menggambarkan cerita tentang proses belajar tahap awal di Indonesia di
dalam goa-goa. Ini menunjukan bahwa bangsa Indonesia telah mulai mengenal cara
untuk melakukan pendidikan meskipun hanya melalui gambar sederhana yang mereka
gambar di dinding-dinding goa.
Pada abad pertengahan di Indonesia tidak jauh beda
dengan di Eropa baik Indonesia maupun Eropa memiliki ciri yang sama dalam hal
beberapa aspek diantaranya adalah mengenai pendidikan maupun pemerintahan. Bila
di Eropa pendidikan maupun pemerintahan kiblat utamanya adalah gereja atau
gerejasentris di Indonesia yang menjadi kiblatnya adalah agama Budha, Hindu,
dan ditutup oleh Islam, yang banyak mempengaruhi sistem hidup maupun
pemerintahan pada saat itu. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa keduanya
memiliki persamaan namun tak serupa yakni pada abad pertengahan baik di Eropa
maupun Indonesia sama-sama dipengaruhi oleh unsur agama yang dominan bila di
Eropa agama kristen yang jadi fokus maka
di Indonesia agama Hindu, Budha, dan ditutup oleh Islam yang dominan.
Lain halnya dengan pendidikan di Indonesia dimana
pendidikan dapat berkembang hingga ke Mancanegara sekalipun dan perkembangan
pendidikan di Indonesia sangatlah berbeda bila dibandingkan dengan di Eropa
yang masa kegelapan mungkin di Indonesia bisa kita sebut sebagai masa “Pencerahaan”
mengapa saya menyebutkan demikian karena bangsa Indonesia pada saat itu mulai
melek akan ilmu dan sadar betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan
meskipun secara garis besar ilmu yang berkembang adalah ilmu yang ruang
lingkupnya mengenai agama.
Pendidikan pada abad pertengahan di Indonesia tidak
terlepas dari keberadaan kerajaan-kerajaan yang berkembang pada masa sejarah
awal Indonesia. Pendidikan mulai
berkembang pada saat kerajaan-kerajaan di Indonesia menganut ajaran
Hindu, Budha, maupun Islam.
2.1.3 Perkembangan Pendidikan pada Abad Pertengahan
A. MASA RENAISSANCE
Renaissance adalah gerakan
maknawiyah, yang merupakan reaksi terhadap sikap hidup abad pertengahan.
Renaissance (kelahiran kembali) kebudayaan klasik. Orang kembali mempelajari
bahasa latin dan Yunani serta filsafatnya. Ciri dari masa ini adalah manusia ingin
bebas dari ikatan abad pertengahan dan berusaha mencari pedoman baru dalam
kebebasan individu. Cita-cita menjadi pendeta mulai ditinggalkan, mengarah pada
masa kejayaan Republik Romawi. Cita-cita tersebut mendorong dipelajarinya berbagai pengetahuan. Berbagai
aliran muncul pada masa ini, seperti: humanisme, reformasi, dan kontra
reformasi.
- Humanisme Lahir di Italia, pelopornya Petrarca dan Bocaccio. Dalam aliran humanisme, Tuhan sebagai pusat norma tertinggi ditinggalkan, cita-cita manusia dicari pada diri manusia sendiri. Ukuran kebenaran, kesusilaan, keindahan, dicari dan didapatkan pada manusia. Dampak bagi pendidikan dan pengajaran: alat pendidikan yang terpenting adalah mempelajari peradaban klasik. Tujuan utama pengajaran mempelajari peradaban klasik, bahasa Yunani dan bahasa Latin. Pendidikan jasmani juga mendapat tempat terhormat. Akibatnya, pendidikan intelek mempunyai tempat yang terhormat dan menjadi maju, sedangkan pendidikan agama menjadi terbelakang. Dasar pendidikan etika tidak lagi agama, tetapi etika alam. Tujuan pendidikan diarahkan pada pembentukan manusia berani, bebas, dan gembira. Berani diartikan sebagai percaya kepada diri sendiri, bukan taat kepada kekuasaan
- Tuhan seperti jaman pertengahan. Berani pula untuk memperoleh kemashuran yang telah dicita-citakan oleh ahli filsafat pada jaman Yunani dan Romawi. Bebas diartikan lepas dari ikatan gereja dan tradisi, berkembang selaras, individualistis, bukan manusia kolektifistis seperti pada abad pertengahan. Gembira berarti menunjukkan dirinya kepada kenikmatan duniawi, bukan kepada keakhiratan seperti abad pertengahan. Pengaruh humanisme dalam organisasi sekolah: orang berpendapat bahwa negara harus turut campur dalam pengelolaannya. Pengaruh dalam penetapan bahan pelajaran: terdiri dari artes liberalis yang 7, dengan ditambah ilmu alam, menggambar, dan puisi.
- Reformasi Awalnya muncul di Jerman, dipelopori oleh Luther dan Calvijn. Reformasi merupakan reaksi terhadap tindakan gereja yang pada masa itu membebani rakyat dengan bermacam pajak. Penagnut aliran ini ingin kembali pada ajaran nasrani, dan hanya mengakui injil sebagai satu-satunya sumber kepercayaan. Mereka menyangkal kekuasaan Paus dan konsili-konsili (permusyawaratan gereja), karena pertentangan itulah mereka disebut kaum protestan. Berbeda dengan humanisme yang bersifat aristokratis (tertuju hanya kepada lapisan atas), dan membentuk sarjana; reformasi bersifat lebih demokratis, tertuju kepada seluruh lapisan masyarakat. Dalam hal kepentingan, humanisme lebih tertuju pada kepentingan ilmu pengetahuan, estetika dan filsafat, sedangkan dalam reformasi mengutamakan kepentingan agama dan tidak setuju dengan filsafat Yunani. Bagi reformasi, bahasa latin dan Yunani hanya untuk memahami injil.
- Kontra Reformasi Renaissance dialami pula oleh gereja katolik, yang disebut sebagai kontra reformasi. Hal ini disebabkan oleh konsili di Trente (1543-1563) yang memutuskan akan memperbaiki keadaan dan menjalankan disiplin yang keras terhadap peraturan-peraturan gereja serta membela diri terhadap serangan-serangan kaum protestan. Dalam konsili itu dibicarakan juga usaha-usaha untuk memperluas pendidikan dan pengajaran. Para uskup harus mendirikan sekolah-sekolah seminari untuk memberi kesempatan anak-anak dari keluarga kurang mampu bisa masuk dengan gratis, untuk mendidik calon pendeta, mengajarkan agama kepada anak-anak dan orang dewasa dalam bahasa ibu. Organisasinya disusun seperti susunan ketentaraan dengan paus sebagai “jenderalnya”. Biara menjadi sumber semangat perang untuk memberantas keingkaran orang terhadap agama serta memperluas pengaruh agama katolik dan memperkokoh kedudukan paus. Sekolah-sekolah banyak didirikan, mulai dari sekolah rendah sampai dengan universitas. Mazhab Yezuit di bawah pimpinan Ignatius de Loyola menjadi pelopor dalam dunia pendidikan. rencana pendidikan kaum Yezuit tertera dalam “ratio studiorum”
B. PENDIDIKAN PADA MASA REALISME
Aliran realisme muncul dalam bidang
pendidikan kurang lebih tahun 1600. Aliran ini bertujuan untuk: 1. meninggalkan
cara-cara pembentukan secara klasik, seperti yang dianjurkan oleh humanisme; 2.
mengarahkan perhatian kepada dunia nyata, kepada alam dan benda-benda yang
sebenarnya aliran ini muncul disebabkan oleh: 1. munculnya ilmu-ilmu kealaman;
dan 2. ambruknya sistim pengajaran yang bersifat humanistis. Karena realisme
inilah, dunia pengetahuan yang sampai saat itu masih terpengaruh oleh ajaran
Aristoteles mulai goyah. Munculnya ilmu-ilmu kealaman disebabkan karena manusia
berambisi membongkar segala rahasia-rahasia alam. Manusia mulai mempergunakan
fikirannya dengan lebih mendalam. Segala peristiwa alam diselidiki dan diamati.
Maka muncullah penemuan- penemuan hebat, seperti penemuan Copernicus yang
menyatakan bahwa dunia ini berputar mengelilingi matahari (bertentangan dengan
pendapat sebelumnya, yaitu Ptolomaeus bahwa bumilah yang menjadi pusat semesta
alam). Banyak musafir yang menjelajah ke segala jurusan untuk menemukan
benua-benua baru. ketidaksanggupan ilmu-ilmu klasik dalam menerangkan
kenyataan-kenyataan itulah, maka dicari jalan baru.
C. PENDIDIKAN MASA PENCERAHAN
(AUFKLARUNG)
Gejala-gejala baru muncul pada abad
ke-18, terutama pada pertengahan kedua dari abad itu. Seluruh kegiatan manusia
saat itu ditujukan kepada usaha mengadakan pencerahan terhadap abad kegelapan.
Abad kegelapan adalah ialah abad pertengahan, yang roh jamannya dianggap
berakhir setelah abad ke-18 tiba. Pada
masa ini manusia ingin bebas dari ikatan gereja dan tradisi, hasilnya gereja
dan negara terpisah. Dalam pendidikan, dituntut agar negara yang harus
menyelenggarakan pengajaran, terutama bagi rakyat umum, lepas sama sekali dari
pengaruh gereja (tuntutan ini baru berhasil pada akhir abad ke-19). Seluruh
gerakan rohaniah dalam pelbagai lapangan itulah yang disebut sebagai
Pencerahan, yang telah menguasai alam pikiran orang di Eropa Barat pada abad
ke-18 dan ke-19. dua aliran maknawiyah yang berkembang dan saling mempengaruhi saat
itu adalah:
1. Empirisme
Aliran ini
beranggapan bahwa sumber dari segala
pengetahuan dan kebenaran adalah empiri atau pengalaman. Segala sesuatu harus
dicari dari bahan-bahan yang telah kita peroleh dari pengalaman kita sendiri.
Paham ini berasal dari Inggris, dipelopori oleh Francis Bacon (1561-1626). Dalam paham ini, barangsiapa yang menghendaki
ilmu pengetahuan harus mengadakan penyelidikan sendiri. Ia harus mencari
gejala-gejalanya, kemudian menyusunnya dengan teliti dan dengan menempuh jalan
induksi sampai pada hukum-hukum yang umum. Oleh karena itu empiri dan induksi
merupakan satu-satunya jalan untuk memperoleh pengetahuan. Dengan penyelidikan
sendiri, pengamatan fakta-fakta dan pengalaman adalah terbesar maknanya. Aliran
ini kemudian lebih diperluas dan diuraikan oleh kaum empiris bangsa Inggris
lainnya, seperti John Locke, Berkeley, dan Hume.
2. Rationalisme
Aliran ini lahir
di Prancis dan Descartes (1596-1650), berpendapat bahwa sesuatu itu dianggap
benar jika sesuai dengan akal fikiran. Fikiran manusia akan sanggup memecahkan
segala persoalan. Untuk menuju ke arah kemajuan dan kesempurnaan, ditempuh
jalan fikiran yang sehat. Rationalisme
merupakan kelanjutan dari perlawanan terhadap ajaran-ajaran yang bersifat
dogmatis dan tradisi, yang mulai tampak pada abad ke-15 dan ke-16. menurut
rationalisme, pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pengamatan alat dria
(induksi) masih diragukan kebenarannya. Yang jelas dapat dipercaya adalah
kenyataan, bahwa manusia itu berpikir. Ia berpikir dengan akalnya, maka akal
budinya itulah yang berkuasa dalam hidupnya. Penyebab manusia berpikir tidak
terletak pada manusia sendiri, tetapi pada Tuhan. Yang mengatakan hal itu
adalah budi atau akal kita. Budi itulah yang menetapkan norma- norma hidup.
Rationalisme menempatkan budi itu di atas wahyu Ilahi. Budi menetapkan apa yang
dapat kita terima dan apa yang tidak, juga di lapangan agama.
2.2 Definisi atau karakteristik Pemikiran
Masa Abad Pertengahan
Menurut
Herman (2007-27), pada zaman ini dikenal aliran filsafat patristik dan
skolastik berdasarkan Theos. Filsuf terkenal pada masa ini adalah Agustinus
(354-43 SM) dan Thomas Aquinas (1225-1275) yang memunculkan ajaran Tomisme.
Selain itu, dikenal juga filsuf-filsuf muslim pada zaman keemasan abad pertengahan,
yaitu Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusjd, dan Al-Ghazali yang
menunjukkan hubungan mata rantai dengan sejarah filsafat Yunani (adanya
semboyan mitos-logos-theos). Thomas Aquinas (1225-1227) merupakan murid dari
Albertus Agung yang mengembangkan pemikiran Aristoteles. Filsafatnya adlah
theologis yang memadukan pemikiran Agustinus dan Neo Platomisme dengan
mempergunakan pemikiran Arilstoteles.
Sejarah
filsafat abad pertengahan dibagi menjadi dua zaman atau periode, yakni periode
pratistik dan periode skolastik.
1. Patristik (100-700)
Patristik
berasal dari kata Latin Patres yang berarti bapa-bapa gereja,
adalah ahli agama Kristen pada abad permulaan agama kristen.Didunia barat agama
katolik mulai tersebar dengan ajaranya tentang Tuhan, manusia dan etikanya.
Untuk mempertahankan dan menyebarkanya maka mereka menggunakan filsafat yunani
dan memperkembangkanya lebih lanjut, khususnya menganai soal soal tentang
kebebasan manusia, kepribadian, kesusilaan, sifat tuhan. Yang terkenal
Tertulianus (160-222), Origenes (185-254), Agustinus (354-430), yang
sangat besar pengaruhnya. Zaman ini muncul pada abad ke-2 sampai abad ke-7,
dicirikan dengan usaha keras para Bapa Gereja untuk mengartikulasikan, menata,
dan memperkuat isi ajaran Kristen serta membelanya dari serangan kaum kafir dan
bid’ah kaum Gnosis.
2. Skolastik 800-1500
Zaman
Skolastik dimulai sejak abad ke-9. Kalau tokoh masa Patristik adalah
pribadi-pribadi yang lewat tulisannya memberikan bentuk pada pemikiran filsafat
dan teologi pada zamannya, para tokoh zaman Skolastik adalah para pelajar dari
lingkungan sekolah-kerajaan dan sekolah-katedral yang didirikan oleh Raja Karel
Agung (742-814) dan kelak juga dari lingkungan universitas dan ordo-ordo
biarawan. Dengan demikian, kata “skolastik” menunjuk kepada suatu periode di
Abad Pertengahan ketika banyak sekolah didirikan dan banyak pengajar ulung
bermunculan. Namun, dalam arti yang lebih khusus, kata “skolastik” menunjuk
kepada suatu metode tertentu, yakni “metode skolastik”. Zaman Skolastik memiliki
tiga periode, yaitu :
a)
Periode Skolstik awal (800-120)
Ditandai
dengan pembentukan metode yang lahir karena hubungan yang erat antara agama dan
filsafat. Ditandai oleh pembentukan metode yang lahir karena hubungan yang
rapat antara agama dan filsafat. Pada periode ini, diupayakan misalnya,
pembuktian adanya Tuhan berdasarkan rasio murni, jadi tanpa berdasarkan Kitab
Suci (Anselmus dan Canterbury). Selanjutnya, logika Aristoteles diterapkan pada
semua bidang pengkajian ilmu pengetahuan dan “metode skolastik” dengan pro
dan kontra mulai berkembang (Petrus Abaelardus pada abad ke-11 atau
ke-12).
b)
Periode puncak perkembangan skolastik (abad ke-13)
Periode
puncak perkembangan skolastik dipengaruhi oleh Aristoteles akibat kedatangan
ahli filsafat Arab dan yahudi. Filsafat Aristoteles memberikan warna dominan
pada alam pemikiran Abad Pertengahan. Aristoteles diakui sebagai Sang Filsuf,
gaya pemikiran Yunani semakin diterima, keluasan cakrawala berpikir semakin
ditantang lewat perselisihan dengan filsafat Arab dan Yahudi.
2.3 Filosof
yang Terkenal Pada Abad Pertengahan
1.
AUGUSTINUS ( 354 – 430 )
Augustinus
lahir pada tanggal 13 november 354 di Tagaska, Numidia (sekarang Algeria).
Ayahnya Patricius adalah seorang pejabat pada kekaisaran Romawi, yang tetap
kafir sampai kematiannya pada tahun 370. Ibunya Monica (Monnica), adalah
penganut Kristen yang amat taat.Ajaran Augustinus dapat dikatakan berpusat pada
dua pool, Tuhan dan manusia. Akan tetapi dapat dikatakan bahwa seluruh
ajaran Augustinus berpusat pada Tuhan. Kesimpulan ini di ambil karena ia
mengatakan bahwa ia hanya ingin mengenal Tuhan dan Roh, tidak lebih dari itu.
Ia yakin benar bahwa pemikiran dapat mengenal kebenaran, karena itu ia menolak
skeptisisme. Ia mengatakan bahwa setiap pengertian tentang kemungkinan pasti
mengandung kesungguhan. Ia sependapat dengan Plotinus yang mengatakan bahwa
Tuhan itu diatas segala jenis (catagories). Sifat Tuhan yang paling penting
ialah kekal, bijaksana, maha kuasa, tidak terbatas, maha tahu, maha sempurna
dan tidak dapat diubah. Tuhan itu kuno tetapi selalu baru, Tuhan adalah suatu
kebenaran yang abadi.
2.
ANSELMUS ( 1033-1109 )
Merupakan
salah satu tokoh filsafat di abad pertengahan. Anselmus lahir di Aosta,
Burgundi, yang sekarang ini dikenal dengan nama daerah Italia Utara. Nama
aslinya adalah Anselmo d’Aosta. Ayahnya bernama Gundulf de Candia, sedangkan ibunya
bernama Ermenbega of Geneva.
Anselmus
dikenal sebagai Bapak Tradisi Skolastik dan uskup besar (Archbishop) di
Canterbury dari tahun 1093 hingga meninggal. Ketertarikannya pada bidang
filsafat adalah argumentasi logis yang menyangkut Monologion dan Proslogion.
Monologion merupakan solilokui atau berbicara pada diri sendiri, sedangkan
proslogion adalah discourse atau berwacana. Keduanya memberikan argumentasi
yang bertujuan untuk membuktikan keberadaan Tuhan.
Di
dalam filsafat Anselmus kelihatan iman merupakan tema sentral pemikirannya.
Iman kepada Kristus adalah yang paling penting sebelum yang lain. Dari sini
dapatlah kita memahami pernyataannya, credo ut intelligam (believe in order
to understand/percayalah agar mengerti). Ungkapan itu menggambarkan bahwa
ia mendahulukan iman daripada akal. Iapun mengatakan wahyu harus diterima dulu
sebelum kita mulai berfikir. Kesimpulannya akal hanyalah pembantu wahyu.
Anselmus adalah salah seorang “terpelajar”, seorang ahli Kristen yang mencoba
memasukkan logika dalam pelayanan iman. Meskipun Anselmus mengetahui Alkitab
dengan baik, tetapi ia ingin menguji kekuatan logika manusia dalam upayanya
membuktikan doktrinnya. Namun selalu imanlah yang mendasari semua itu. Dalam
karyanya Proslogium,
yang pada awalnya berjudul Iman Mencari
Pengertian (Fides Quaerens Intellectum). Menurut Anselmus,
apa yang kita sebut Allah memiliki suatu pengertian yang lebih besar dari
segala sesuatu yang bisa kita pikirkan. Apabila kita berbicara tentang Allah,
yang kita maksudkan ialah suatu pengertian yang lebih besar dari pada apa saja
yang dapat kita pikirkan. Dengan begitu pengertian “Allah” yang ada di dalam
rumusan pemikiran kita adalah lebih besar daripada apa saja yang ada di dalam
pikiran. Apa yang di dalam pikiran ada sebagai yang tertinggi atau yang lebih
besar, tentu juga berada di dalam kenyataan sebagai yang tertinggi dan yang
terbesar
3.
THOMAS AQUINAS (1225-1274)
Hanya
ada dua kekuatan yang menggerakkan gemuruhnya dunia, agama dan filsafat.
Aquinas membicarakan kedua-duanya, hakikat masing-masing, serta hubungan
kedua-duanya. Ketertarikan pemikirannya dengan Agustinus yang hidup hampir
seribu tahun sebelumnya cukup jelas, Agustinus juga membicarakan agama dan
filsafat, hakikat serta hubungan kedua-duanya.
Berdasarkan
filsafatnya pada kepastian adanya Tuhan. Aquinas mengatahui banyak ahli teologi
percaya pada adanya Tuhan hanya berdasarkan pendapat umum. Menurut Aquinas,
eksestensi Tuhan dapat diketahui dengan akal. Untuk membuktikan. Ia mengajukan lima
dalil (argumen) untuk membuktikan bahwa eksistensi Tuhan dapat diketahui
dengan akal, seperti sebagai berikut ini :
·
Argumen gerak
·
Sebab yang mencukupi
·
Kemungkinan dan
keharusan
·
Memperhatikan tingkatan
yang terdapat pada alam
·
Keteraturan alam
·
Tentang jiwa
Di
dalam filsafat gereja, Aquinas mengatakan bahwa manusia tidak akan selamat
tanpa pelantara gereja. Sakramen-sakramen gereja itu perlu, sakramen itu
mempunyai dua tujuan yaitu : Pertama,
menyempurnakan manusia dalam penyembahan kepada Tuhan. Kedua, menjaga manusia dari dosa.
Aquinas juga mengatakan bahwa Baptis mengatur permulaan hidup, penyesalan
(confirmation) untuk keperluan pertumbuhan manusia dan sakramen maha kudus
(eucharist) untuk menguatkan jiwa.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Pendidikan
pada abad pertengahan lebih menonjolkan pada pendidikan keagamaan, yakni
dilaksanakan di gereja-gereja dan ilmu pengetahaun alam tidak diperbolehkan
untuk dipelajari. Akan tetapi seiring berjalannya waktu banyak filosof-filosof
yang muncul dan mengemukakan pendapat mereka akhirnya pendidikan pada abad
pertengahan mengalami perkembangan, yakni masyarakat di Eropa saat itu sudah
diperbolehkan mempelajari ilmu pengetahuan alam. Berdasarkan filosofi-filosofi
yang dikemukakan oleh para filosof Yunani pada abad pertengahan dapat
disimpulkan bahwa sejarah abad pertengahan awal memiliki pengaruh yang besar
terhadap ilmu pengetahuan dan pendidikan masa sekarang.
DAFTAR PUSTAKA
Afid. 2013. (Online) (https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/05/21/sejarah-perkembangan-ilmu-pada-masa-abad-pertengahan/)
diakses 17 Januari 2015.
Bertens, K. ( 1999 ). Sejarah filsafat yunani: dari Thales ke Aristoteles. Kanisius:
Yogyakarta.
Bertens, K.
( 2006 ). Ringkasan sejarah filsafat.
Kanisius: Yogyakarta.
Rapar, J.H. ( 1996 ). Pengantar logika, asas-asas penalaran sistematis. Kanisius:
Yogyakarta.
Tjahjadi, S.P. ( 2008 ). Petualangan intelektual, konfrontasi dengan para filsuf dari zaman
yunani hingga zaman modern. Kanisius: Yogyakarta.