Friday, 30 October 2015



BAB I
PENDAHULUAN
       1.1  Latar Belakang
Pendidikan merupakan sebuah proses transpormasi ilmu pengetahuan baik itu ilmu alamiah, maupun ilmu akal, dari generasi yang lebih tahu kepada generasi selanjutnya yang belum memiliki pengetahuan sebanyak generasi terdahulunya. Proses ini berlangsung dari zaman prasejarah sampai abad modern saat ini. Mulai dari cara yang sederhana sampai kepada cara yang kompleks seperti saat ini, mulai dari hanya berbagi pengalaman ketika berburu di depan api unggun sampai kepada melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti sekarang ini. Semua itu hampir berlangsung di seluruh dunia tidak hanya di Indonesia saja,  itu merupakan proses alamiah manusia sebagai makhluk sosial yang selalu ingin berbagi dalam segala aspek kehidupannya.
Filsafat barat Abad Pertengahan (479-1492 M) juga dapat dikatakan sebagai “Abad Gelap”, karena pendapat ini didasarkan pada pendekatan sejarah gereja. Memang saat itu, tindakan gereja sangat membelenggu kehidupan manusia. Para ahli fikir saat itu tidak lagi memiliki kebebasan untuk berfikir. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran gereja orang yang mengemukakannya akan mendapatkan hukuman berat.
Pihak gereja melarang diadakannya penyelidikan berdasarkan rasio terhadap agama. Dalam sejarah filsafat ada saat-saat yang dianggap penting sebagai patokan suatu era (zaman), karena selain memiliki zaman atau khas, yaitu suatu aliran filsafat bisa meniggalkan pengaruh yang sangat bersejarah pada peradaban manusia. Pada awal abad ke-6 filsafat berhenti untuk waktu yang lama. Segala perkembangan ilmu pada waktu itu terhambat. Hal ini disebabkan karena abad ke-6 dan ke-7 adalah abad-abad yang kacau. Karena pada waktu itu adanya perpindahan bangsa-bangsa yang masih belum beradab terhadap kerajaan romawi, sampai kerajaan tersebut runtuh. Bersama kerajaan itu runtuh, runtuh pula peradaban romawi, baik itu yang bukan umat kristiani maupun peradaban kristiani yang di bangun pada abad ke-5 terakhir.

       1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana ajaran pendidikan pada abad pertengahan?
2.      Bagaimana definisi atau karakteristik pemikiran masa abad pertengahan?
3.      Siapa saja filsafat yang terkenal pada abad pertengahan?

       1.3   Tujuan
1.      Untuk mengetahui Bagaimana pendidikan di eropa pada abad pertengahan
2.      Untuk mengetahui definisi atau karakteristik Pemikiran Masa Abad Pertengahan
3.      Untuk mengetahui Siapa saja filsafat yang terkenal pada abad pertengahan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Ajaran Pendidikan pada Abad Pertengahan
            2.1.1 Pendidikan Abad Pertengahan di Eropa
Pada abad pertengahan, aliran religi menjadi sangat berpengaruh. Pendidikan bersifat akherat, hal-hal yang sifatnya duniawi tidak begitu mendapat perhatian. Semua usaha pendidikan tertuju kepada kehidupan akherat. Yang menjadi lembaga pendidikan adalah: rumah tangga, gereja, sekolah, negara, dan masyarakat. Semua lembaga tersebut didominasi oleh religi. Agama merupakan pusat dari seluruh pendidikan dan pengajaran. Pekerjaan para paderi yang semula mengerjakan tanah, mengeringkan paya-paya guna memajukan pertanian, beralih ke penyelenggaraan kepentingan-kepentingan rohaniah, yaitu dengan didirikannya sekolah-sekolah.
Abad pertengahan merupakan jaman scholastik (pelajaran sekolah). Scholastik dimaksud sebagai usaha ilmiah untuk membuat supaya pelajaran-pelajaran gereja dapat dipahami dengan memberikan bukti-bukti yang logis. Kehidupan duniawi dianggap hanya sebagai landasan bagi hidup di alam baka. Apabila di Yunani dan Romawi ada orang tunduk pada negara, maka kini tunduk pada gereja. Abad pertengahan di Eropa dibagi menjadi dua bagian yang berlainan keadaannya. Abad ke-5 dan ke-6 disebut abad gelap. Pada masa itu terjadi perpindahan bangsa-bangsa, kekacauan, dan bangkitnya kebudayaan.
Meskipun di Eropa pada saat itu mengalami masa yang lazim disebut dengan “The Dark Ages” atau zaman kegalapan yang mana ilmu pengetahuan tidak dapat berkembang dengan maksimal ini terjadi karena monopoli ilmu oleh Gereja. Mengapa demikian, ini terjadi karean semua manuskrif-manuskrif, catatan-catatan mengenai pengetahuan dikusai oleh Gereja dan dikembangkan dogma bahwa barang siapa yang berusaha untuk belajar atau membaca buku pengetahuan di perpustakaan dia akan mati. Sehingga masyarakat pun enggan untuk mengkaji masalah keilmuan pada saat itu. Memang, ada masyarakat yang nekat tapi mereka semua diketemukan meninggal baik itu ketika membaca maupun setelah membaca buku-buku di dalam perpustakaan.
2.1.2       Pendidikan di Indonesia pada Abad Pertengahan
Sebelum bermunculanya kerajaan-kerajaan Hindu, Budha, dan Islam di Indonesia diperkirakan telah tumbuh dan berkembang pendidikan dalam fase-fase yang cuckup sederhana dimana pada masa ini bangsa indonesia belumlah mengenal tulisan sehingga pendidikan mungkin hanya melalui lisan saja.  Namun, fakta lain  muncul karena banyak ditemukan gambar-gambar yang menggambarkan cerita tentang proses belajar tahap awal di Indonesia di dalam goa-goa. Ini menunjukan bahwa bangsa Indonesia telah mulai mengenal cara untuk melakukan pendidikan meskipun hanya melalui gambar sederhana yang mereka gambar di dinding-dinding goa.
Pada abad pertengahan di Indonesia tidak jauh beda dengan di Eropa baik Indonesia maupun Eropa memiliki ciri yang sama dalam hal beberapa aspek diantaranya adalah mengenai pendidikan maupun pemerintahan. Bila di Eropa pendidikan maupun pemerintahan kiblat utamanya adalah gereja atau gerejasentris di Indonesia yang menjadi kiblatnya adalah agama Budha, Hindu, dan ditutup oleh Islam, yang banyak mempengaruhi sistem hidup maupun pemerintahan pada saat itu. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa keduanya memiliki persamaan namun tak serupa yakni pada abad pertengahan baik di Eropa maupun Indonesia sama-sama dipengaruhi oleh unsur agama yang dominan bila di Eropa agama kristen yang  jadi fokus maka di Indonesia agama Hindu, Budha, dan ditutup oleh Islam yang dominan.
Lain halnya dengan pendidikan di Indonesia dimana pendidikan dapat berkembang hingga ke Mancanegara sekalipun dan perkembangan pendidikan di Indonesia sangatlah berbeda bila dibandingkan dengan di Eropa yang masa kegelapan mungkin di Indonesia bisa kita sebut sebagai masa “Pencerahaan” mengapa saya menyebutkan demikian karena bangsa Indonesia pada saat itu mulai melek akan ilmu dan sadar betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan meskipun secara garis besar ilmu yang berkembang adalah ilmu yang ruang lingkupnya mengenai agama.
Pendidikan pada abad pertengahan di Indonesia tidak terlepas dari keberadaan kerajaan-kerajaan yang berkembang pada masa sejarah awal Indonesia. Pendidikan mulai  berkembang pada saat kerajaan-kerajaan di Indonesia menganut ajaran Hindu, Budha, maupun Islam.

2.1.3       Perkembangan Pendidikan pada Abad Pertengahan
A. MASA RENAISSANCE
Renaissance adalah gerakan maknawiyah, yang merupakan reaksi terhadap sikap hidup abad pertengahan. Renaissance (kelahiran kembali) kebudayaan klasik. Orang kembali mempelajari bahasa latin dan Yunani serta filsafatnya. Ciri dari masa ini adalah manusia ingin bebas dari ikatan abad pertengahan dan berusaha mencari pedoman baru dalam kebebasan individu. Cita-cita menjadi pendeta mulai ditinggalkan, mengarah pada masa kejayaan Republik Romawi. Cita-cita tersebut mendorong  dipelajarinya berbagai pengetahuan. Berbagai aliran muncul pada masa ini, seperti: humanisme, reformasi, dan kontra reformasi. 

  • Humanisme Lahir di Italia, pelopornya Petrarca dan Bocaccio. Dalam aliran humanisme, Tuhan sebagai pusat norma tertinggi ditinggalkan, cita-cita manusia dicari pada diri manusia sendiri. Ukuran kebenaran, kesusilaan, keindahan, dicari dan didapatkan pada manusia. Dampak bagi pendidikan dan pengajaran: alat pendidikan yang terpenting adalah mempelajari peradaban klasik.  Tujuan utama pengajaran mempelajari peradaban klasik, bahasa Yunani dan bahasa Latin. Pendidikan jasmani juga mendapat tempat terhormat. Akibatnya, pendidikan intelek mempunyai tempat yang terhormat dan menjadi maju, sedangkan pendidikan agama menjadi terbelakang. Dasar pendidikan etika tidak lagi agama, tetapi etika alam.  Tujuan pendidikan diarahkan pada pembentukan manusia berani, bebas, dan gembira. Berani diartikan sebagai percaya kepada diri sendiri, bukan taat kepada kekuasaan
  • Tuhan seperti jaman pertengahan. Berani pula untuk memperoleh kemashuran yang telah dicita-citakan oleh ahli filsafat pada jaman Yunani dan Romawi. Bebas diartikan lepas dari ikatan gereja dan tradisi, berkembang selaras, individualistis, bukan manusia kolektifistis seperti pada abad pertengahan. Gembira berarti menunjukkan dirinya kepada kenikmatan duniawi, bukan kepada keakhiratan seperti abad pertengahan. Pengaruh humanisme dalam organisasi sekolah: orang berpendapat bahwa negara harus turut campur dalam pengelolaannya. Pengaruh dalam penetapan  bahan pelajaran: terdiri dari artes liberalis yang 7, dengan ditambah ilmu alam, menggambar, dan puisi.  
  • Reformasi Awalnya muncul di Jerman, dipelopori oleh Luther dan Calvijn. Reformasi merupakan reaksi terhadap tindakan gereja yang pada masa itu membebani rakyat dengan bermacam pajak. Penagnut aliran ini ingin kembali pada ajaran nasrani, dan hanya mengakui injil sebagai satu-satunya sumber kepercayaan. Mereka menyangkal kekuasaan Paus dan konsili-konsili (permusyawaratan gereja), karena pertentangan itulah mereka disebut kaum protestan.  Berbeda dengan humanisme yang bersifat aristokratis (tertuju hanya kepada lapisan atas), dan membentuk sarjana; reformasi bersifat lebih demokratis, tertuju kepada seluruh lapisan masyarakat. Dalam hal kepentingan, humanisme lebih tertuju pada kepentingan ilmu pengetahuan, estetika dan filsafat, sedangkan dalam reformasi mengutamakan kepentingan agama dan tidak setuju dengan filsafat Yunani. Bagi reformasi, bahasa latin dan Yunani hanya untuk memahami injil.
  • Kontra Reformasi Renaissance dialami pula oleh gereja katolik, yang disebut sebagai kontra reformasi. Hal ini disebabkan oleh konsili di Trente (1543-1563) yang memutuskan akan memperbaiki keadaan dan menjalankan disiplin yang keras terhadap peraturan-peraturan gereja serta membela diri terhadap serangan-serangan kaum protestan. Dalam konsili itu dibicarakan juga usaha-usaha untuk memperluas pendidikan dan pengajaran. Para uskup harus mendirikan sekolah-sekolah seminari untuk memberi kesempatan anak-anak dari keluarga kurang mampu bisa masuk dengan gratis, untuk mendidik calon pendeta, mengajarkan agama kepada anak-anak dan orang dewasa dalam bahasa ibu. Organisasinya disusun seperti susunan ketentaraan dengan paus sebagai “jenderalnya”. Biara menjadi sumber semangat perang untuk memberantas keingkaran orang terhadap agama serta memperluas pengaruh agama katolik dan memperkokoh kedudukan paus. Sekolah-sekolah banyak didirikan, mulai dari sekolah rendah sampai dengan universitas. Mazhab Yezuit di bawah pimpinan Ignatius de Loyola menjadi pelopor dalam dunia pendidikan. rencana pendidikan kaum Yezuit tertera dalam “ratio studiorum”  

B. PENDIDIKAN PADA MASA REALISME
Aliran realisme muncul dalam bidang pendidikan kurang lebih tahun 1600. Aliran ini bertujuan untuk: 1. meninggalkan cara-cara pembentukan secara klasik, seperti yang dianjurkan oleh humanisme; 2. mengarahkan perhatian kepada dunia nyata, kepada alam dan benda-benda yang sebenarnya aliran ini muncul disebabkan oleh: 1. munculnya ilmu-ilmu kealaman; dan 2. ambruknya sistim pengajaran yang bersifat humanistis. Karena realisme inilah, dunia pengetahuan yang sampai saat itu masih terpengaruh oleh ajaran Aristoteles mulai goyah. Munculnya ilmu-ilmu kealaman disebabkan karena manusia berambisi membongkar segala rahasia-rahasia alam. Manusia mulai mempergunakan fikirannya dengan lebih mendalam. Segala peristiwa alam diselidiki dan diamati. Maka muncullah penemuan- penemuan hebat, seperti penemuan Copernicus yang menyatakan bahwa dunia ini berputar mengelilingi matahari (bertentangan dengan pendapat sebelumnya, yaitu Ptolomaeus bahwa bumilah yang menjadi pusat semesta alam). Banyak musafir yang menjelajah ke segala jurusan untuk menemukan benua-benua baru. ketidaksanggupan ilmu-ilmu klasik dalam menerangkan kenyataan-kenyataan itulah, maka dicari jalan baru.
C. PENDIDIKAN MASA PENCERAHAN (AUFKLARUNG)
Gejala-gejala baru muncul pada abad ke-18, terutama pada pertengahan kedua dari abad itu. Seluruh kegiatan manusia saat itu ditujukan kepada usaha mengadakan pencerahan terhadap abad kegelapan. Abad kegelapan adalah ialah abad pertengahan, yang roh jamannya dianggap berakhir setelah abad ke-18 tiba.  Pada masa ini manusia ingin bebas dari ikatan gereja dan tradisi, hasilnya gereja dan negara terpisah. Dalam pendidikan, dituntut agar negara yang harus menyelenggarakan pengajaran, terutama bagi rakyat umum, lepas sama sekali dari pengaruh gereja (tuntutan ini baru berhasil pada akhir abad ke-19). Seluruh gerakan rohaniah dalam pelbagai lapangan itulah yang disebut sebagai Pencerahan, yang telah menguasai alam pikiran orang di Eropa Barat pada abad ke-18 dan ke-19. dua aliran maknawiyah yang berkembang dan saling mempengaruhi saat itu adalah:

1.      Empirisme
Aliran ini beranggapan  bahwa sumber dari segala pengetahuan dan kebenaran adalah empiri atau pengalaman. Segala sesuatu harus dicari dari bahan-bahan yang telah kita peroleh dari pengalaman kita sendiri. Paham ini berasal dari Inggris, dipelopori oleh Francis Bacon (1561-1626).  Dalam paham ini, barangsiapa yang menghendaki ilmu pengetahuan harus mengadakan penyelidikan sendiri. Ia harus mencari gejala-gejalanya, kemudian menyusunnya dengan teliti dan dengan menempuh jalan induksi sampai pada hukum-hukum yang umum. Oleh karena itu empiri dan induksi merupakan satu-satunya jalan untuk memperoleh pengetahuan. Dengan penyelidikan sendiri, pengamatan fakta-fakta dan pengalaman adalah terbesar maknanya. Aliran ini kemudian lebih diperluas dan diuraikan oleh kaum empiris bangsa Inggris lainnya, seperti John Locke, Berkeley, dan Hume.
2.      Rationalisme
Aliran ini lahir di Prancis dan Descartes (1596-1650), berpendapat bahwa sesuatu itu dianggap benar jika sesuai dengan akal fikiran. Fikiran manusia akan sanggup memecahkan segala persoalan. Untuk menuju ke arah kemajuan dan kesempurnaan, ditempuh jalan fikiran yang sehat.  Rationalisme merupakan kelanjutan dari perlawanan terhadap ajaran-ajaran yang bersifat dogmatis dan tradisi, yang mulai tampak pada abad ke-15 dan ke-16. menurut rationalisme, pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pengamatan alat dria (induksi) masih diragukan kebenarannya. Yang jelas dapat dipercaya adalah kenyataan, bahwa manusia itu berpikir. Ia berpikir dengan akalnya, maka akal budinya itulah yang berkuasa dalam hidupnya. Penyebab manusia berpikir tidak terletak pada manusia sendiri, tetapi pada Tuhan. Yang mengatakan hal itu adalah budi atau akal kita. Budi itulah yang menetapkan norma- norma hidup. Rationalisme menempatkan budi itu di atas wahyu Ilahi. Budi menetapkan apa yang dapat kita terima dan apa yang tidak, juga di lapangan agama. 


2.2       Definisi atau karakteristik Pemikiran Masa Abad Pertengahan
Menurut Herman (2007-27), pada zaman ini dikenal aliran filsafat patristik dan skolastik berdasarkan Theos. Filsuf terkenal pada masa ini adalah Agustinus (354-43 SM) dan Thomas Aquinas (1225-1275) yang memunculkan ajaran Tomisme. Selain itu, dikenal juga filsuf-filsuf muslim pada zaman keemasan abad pertengahan, yaitu Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusjd, dan Al-Ghazali yang menunjukkan hubungan mata rantai dengan sejarah filsafat Yunani (adanya semboyan mitos-logos-theos). Thomas Aquinas (1225-1227) merupakan murid dari Albertus Agung yang mengembangkan pemikiran Aristoteles. Filsafatnya adlah theologis yang memadukan pemikiran Agustinus dan Neo Platomisme dengan mempergunakan pemikiran Arilstoteles.
Sejarah filsafat abad pertengahan dibagi menjadi dua zaman atau periode, yakni periode pratistik dan periode skolastik.
1.    Patristik (100-700)
Patristik berasal dari kata Latin Patres yang berarti bapa-bapa gereja, adalah ahli agama Kristen pada abad permulaan agama kristen.Didunia barat agama katolik mulai tersebar dengan ajaranya tentang Tuhan, manusia dan etikanya. Untuk mempertahankan dan menyebarkanya maka mereka menggunakan filsafat yunani dan memperkembangkanya lebih lanjut, khususnya menganai soal soal  tentang kebebasan manusia, kepribadian, kesusilaan, sifat tuhan. Yang terkenal Tertulianus (160-222), Origenes (185-254), Agustinus (354-430),  yang sangat besar pengaruhnya. Zaman ini muncul pada abad ke-2 sampai abad ke-7, dicirikan dengan usaha keras para Bapa Gereja untuk mengartikulasikan, menata, dan memperkuat isi ajaran Kristen serta membelanya dari serangan kaum kafir dan bid’ah kaum Gnosis.
2.  Skolastik 800-1500
Zaman Skolastik dimulai sejak abad ke-9. Kalau tokoh masa Patristik adalah pribadi-pribadi yang lewat tulisannya memberikan bentuk pada pemikiran filsafat dan teologi pada zamannya, para tokoh zaman Skolastik adalah para pelajar dari lingkungan sekolah-kerajaan dan sekolah-katedral yang didirikan oleh Raja Karel Agung (742-814) dan kelak juga dari lingkungan universitas dan ordo-ordo biarawan. Dengan demikian, kata “skolastik” menunjuk kepada suatu periode di Abad Pertengahan ketika banyak sekolah didirikan dan banyak pengajar ulung bermunculan. Namun, dalam arti yang lebih khusus, kata “skolastik” menunjuk kepada suatu metode tertentu, yakni “metode skolastik”. Zaman Skolastik memiliki tiga periode, yaitu :
a)    Periode Skolstik awal (800-120)
Ditandai dengan pembentukan metode yang lahir karena hubungan yang erat antara agama dan filsafat. Ditandai oleh pembentukan metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan filsafat. Pada periode ini, diupayakan misalnya, pembuktian adanya Tuhan berdasarkan rasio murni, jadi tanpa berdasarkan Kitab Suci (Anselmus dan Canterbury). Selanjutnya, logika Aristoteles diterapkan pada semua bidang pengkajian ilmu pengetahuan dan “metode skolastik” dengan pro dan kontra mulai berkembang (Petrus Abaelardus pada abad ke-11 atau ke-12).

b)   Periode puncak perkembangan skolastik (abad ke-13)
Periode puncak perkembangan skolastik dipengaruhi oleh Aristoteles akibat kedatangan ahli filsafat Arab dan yahudi. Filsafat Aristoteles memberikan warna dominan pada alam pemikiran Abad Pertengahan. Aristoteles diakui sebagai Sang Filsuf, gaya pemikiran Yunani semakin diterima, keluasan cakrawala berpikir semakin ditantang lewat perselisihan dengan filsafat Arab dan Yahudi.

2.3       Filosof yang Terkenal Pada Abad Pertengahan
1.      AUGUSTINUS ( 354 – 430 )
Augustinus lahir pada tanggal 13 november 354 di Tagaska, Numidia (sekarang Algeria). Ayahnya Patricius adalah seorang pejabat pada kekaisaran Romawi, yang tetap kafir sampai kematiannya pada tahun 370. Ibunya Monica (Monnica), adalah penganut Kristen yang amat taat.Ajaran Augustinus dapat dikatakan berpusat pada dua pool, Tuhan dan manusia. Akan tetapi dapat dikatakan bahwa seluruh ajaran Augustinus berpusat pada Tuhan. Kesimpulan ini di ambil karena ia mengatakan bahwa ia hanya ingin mengenal Tuhan dan Roh, tidak lebih dari itu. Ia yakin benar bahwa pemikiran dapat mengenal kebenaran, karena itu ia menolak skeptisisme. Ia mengatakan bahwa setiap pengertian tentang kemungkinan pasti mengandung kesungguhan. Ia sependapat dengan Plotinus yang mengatakan bahwa Tuhan itu diatas segala jenis (catagories). Sifat Tuhan yang paling penting ialah kekal, bijaksana, maha kuasa, tidak terbatas, maha tahu, maha sempurna dan tidak dapat diubah. Tuhan itu kuno tetapi selalu baru, Tuhan adalah suatu kebenaran yang abadi.
2.      ANSELMUS ( 1033-1109 )
Merupakan salah satu tokoh filsafat di abad pertengahan. Anselmus lahir di Aosta, Burgundi, yang sekarang ini dikenal dengan nama daerah Italia Utara. Nama aslinya adalah Anselmo d’Aosta. Ayahnya bernama Gundulf de Candia, sedangkan ibunya bernama Ermenbega of Geneva.
Anselmus dikenal sebagai Bapak Tradisi Skolastik dan uskup besar (Archbishop) di Canterbury dari tahun 1093 hingga meninggal. Ketertarikannya pada bidang filsafat adalah argumentasi logis yang menyangkut Monologion dan Proslogion. Monologion merupakan solilokui atau berbicara pada diri sendiri, sedangkan proslogion adalah discourse atau berwacana. Keduanya memberikan argumentasi yang bertujuan untuk membuktikan keberadaan Tuhan.
Di dalam filsafat Anselmus kelihatan iman merupakan tema sentral pemikirannya. Iman kepada Kristus adalah yang paling penting sebelum yang lain. Dari sini dapatlah kita memahami pernyataannya, credo ut intelligam (believe in order to understand/percayalah agar mengerti). Ungkapan itu menggambarkan bahwa ia mendahulukan iman daripada akal. Iapun mengatakan wahyu harus diterima dulu sebelum kita mulai berfikir. Kesimpulannya akal hanyalah pembantu wahyu. Anselmus adalah salah seorang “terpelajar”, seorang ahli Kristen yang mencoba memasukkan logika dalam pelayanan iman. Meskipun Anselmus mengetahui Alkitab dengan baik, tetapi ia ingin menguji kekuatan logika manusia dalam upayanya membuktikan doktrinnya. Namun selalu imanlah yang mendasari semua itu. Dalam karyanya Proslogium, yang pada awalnya berjudul Iman Mencari Pengertian (Fides Quaerens Intellectum). Menurut Anselmus, apa yang kita sebut Allah memiliki suatu pengertian yang lebih besar dari segala sesuatu yang bisa kita pikirkan. Apabila kita berbicara tentang Allah, yang kita maksudkan ialah suatu pengertian yang lebih besar dari pada apa saja yang dapat kita pikirkan. Dengan begitu pengertian “Allah” yang ada di dalam rumusan pemikiran kita adalah lebih besar daripada apa saja yang ada di dalam pikiran. Apa yang di dalam pikiran ada sebagai yang tertinggi atau yang lebih besar, tentu juga berada di dalam kenyataan sebagai yang tertinggi dan yang terbesar
3.      THOMAS AQUINAS (1225-1274)
Hanya ada dua kekuatan yang menggerakkan gemuruhnya dunia, agama dan filsafat. Aquinas membicarakan kedua-duanya, hakikat masing-masing, serta hubungan kedua-duanya. Ketertarikan pemikirannya dengan Agustinus yang hidup hampir seribu tahun sebelumnya cukup jelas, Agustinus juga membicarakan agama dan filsafat, hakikat serta hubungan kedua-duanya.
Berdasarkan filsafatnya pada kepastian adanya Tuhan. Aquinas mengatahui banyak ahli teologi percaya pada adanya Tuhan hanya berdasarkan pendapat umum. Menurut Aquinas, eksestensi Tuhan dapat diketahui dengan akal. Untuk membuktikan. Ia mengajukan lima dalil (argumen) untuk membuktikan bahwa eksistensi Tuhan dapat diketahui dengan akal, seperti sebagai berikut ini :
·       Argumen gerak
·       Sebab yang mencukupi
·       Kemungkinan dan keharusan
·       Memperhatikan tingkatan yang terdapat pada alam
·       Keteraturan alam
·       Tentang jiwa
Di dalam filsafat gereja, Aquinas mengatakan bahwa manusia tidak akan selamat tanpa pelantara gereja. Sakramen-sakramen gereja itu perlu, sakramen itu mempunyai dua tujuan yaitu : Pertama, menyempurnakan manusia dalam penyembahan kepada Tuhan. Kedua, menjaga manusia dari dosa. Aquinas juga mengatakan bahwa Baptis mengatur permulaan hidup, penyesalan (confirmation) untuk keperluan pertumbuhan manusia dan sakramen maha kudus (eucharist) untuk menguatkan jiwa.


BAB III
PENUTUP
3.1              Kesimpulan
Pendidikan pada abad pertengahan lebih menonjolkan pada pendidikan keagamaan, yakni dilaksanakan di gereja-gereja dan ilmu pengetahaun alam tidak diperbolehkan untuk dipelajari. Akan tetapi seiring berjalannya waktu banyak filosof-filosof yang muncul dan mengemukakan pendapat mereka akhirnya pendidikan pada abad pertengahan mengalami perkembangan, yakni masyarakat di Eropa saat itu sudah diperbolehkan mempelajari ilmu pengetahuan alam. Berdasarkan filosofi-filosofi yang dikemukakan oleh para filosof Yunani pada abad pertengahan dapat disimpulkan bahwa sejarah abad pertengahan awal memiliki pengaruh yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan pendidikan masa sekarang.

DAFTAR PUSTAKA
Afid. 2013. (Online) (https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/05/21/sejarah-perkembangan-ilmu-pada-masa-abad-pertengahan/) diakses 17 Januari 2015.
Bertens, K. ( 1999 ). Sejarah filsafat yunani: dari Thales ke Aristoteles. Kanisius: Yogyakarta.
Bertens, K. ( 2006 ). Ringkasan sejarah filsafat. Kanisius: Yogyakarta.
Rapar, J.H. ( 1996 ). Pengantar logika, asas-asas penalaran sistematis. Kanisius: Yogyakarta.
Tjahjadi, S.P. ( 2008 ). Petualangan intelektual, konfrontasi dengan para filsuf dari zaman yunani hingga zaman modern. Kanisius: Yogyakarta.